TOP

Keberuntungan adalah milik mereka yang bersiap

Keberhasilan adalah milik mereka yang berjuang

Kemenangan adalah milik mereka yang berpikir

Kebenaran adalah milik mereka yang belajar

Kebebasan adalah milik mereka yang ikhlas melepaskan

Kemudahan adalah milik mereka yang sabar melapangkan

Kebaikan adalah milik mereka yang istiqomah melakukan

Keindahan adalah milik mereka yang saling mendoakan dan memaafkan

Kebahagiaan adalah milik mereka yang bersyukur

Kemuliaan adalah milik mereka yang ujur

Dan tidak ada satu pun nasib manusia yang bisa berubah

Kecuali dia sendiri yang mengubah

Keberuntungan, keberhasilan, kemenangan, kebenaran,kebebasan, kemudahan, kebaikan, keindahan, kebahagiaan, kemuliaan

Adalah milik mereka yang berubah

(Prawitasari)

 

Read More
TOP

Kadang tak tau lebih baik dari tau

Lebih baik daripada tau sesuatu, tapi tak jujur

Atau tau setengah-setengah, tapi ujungnya kita salah menduga

Atau tau yang jujur, tapi terlalu pahit

(Prawitasari)

Read More
TOP

Jawaban doa selalu iya..

Iya boleh
Iya nanti
Iya, tapi yang lain

 

(Prawitasari)

Read More
TOP

Kisah tentang anak kecil dan bintang laut

Cerita ini pertama kali saya dengar ketika mengikuti seminar insight (Inspiring, Enlightening, and Emancipating)..

Pada suatu sore, seorang pria sedang berjalan-jalan di tepi pantai yang sepi. Lalu di kejauhan dia melihat seorang anak kecil yang bergerak dengan sangat licahnya kesana kemari. Dia melihat anak itu berlari sedikit ke suatu tempat, membungkuk, mengambil sesuatu, pergi ke laut, dan melemparkan benda yang baru di ambilnya ke arah laut. Anak itu terus melakukannya, sesekali ia tampak kelelahan, setelah beristirahat sejenak, anak itu kembali melakukan kegiatannya dengan penuh semangat. Membungkuk, mengambil sesuatu, berlari ke arah air dan melemparkan benda itu ke arah laut. Karena penasaran terhadap apa yang dilakukan anak itu, sang pria kemudian berjalan mendekati anak kecil itu.

Sang pria kemudian bertanya kepada anak itu, “Nak apa yang engkau lakukan sendirian disini? Berlari kesana kemari, apa yang engkau ambil itu?”, sang anak kemudian dengan senyum yang sangat lebar menunjukan benda yang dia pegang kepada pria, ternyata seekor bintang laut. “Apa yang kau lakukan dengan bintang laut ini nak?”, tanya sang pria. “Aku sedang membantu mereka untuk kembali ke laut pak!” jawab si anak dengan penuh senyuman bahagia. Dan serta merta, pria itu tertawa, sambil tertawa ia berkata “Nak, tahukah engkau bahwa pantai ini sangat panjang, dan lihatlah di sekeliling kita, mungkin ada ribuan bintang laut yang terdampar di pantai ini! Tidak mungkin engkau dapat menyelamatkan hidup semua bintang laut ini, dan tidak mungkin engkau bisa melakukan perubahan terhadap keadaan semua bintang laut disini nak! Janganlah engkau menyia-nyiakan waktumu disini nak!”.
Seperti sebelumnya, anak itu hanya tersenyum dengan sopan mendengarkan perkataan pria tersebut dan dia terus melakukan apa yang sebelumnya dia lakukan, memungut bintang laut, dan melemparkannya kembali ke laut. Si pria hanya berdiri terpaku menatap anak kecil tersebut, tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya. Setelah terlihat kelelahan, si anak kecil menghampiri sang pria, lalu berkata “Pak, jika aku tidak melakukan ini, mereka akan mati. Aku tahu yang aku lakukan tidak akan berdampak banyak, aku sadar aku tidak bisa menolong mereka semua”. Setelah berkata itu, si anak memungut seekor bintang laut, menghampiri si pria, dan sambil tersenyum lebar ia menyodorkan bintang laut itu kehadapan sang pria lalu berkata “Aku akan membuat perubahan kecil pada lingkungan ini, sekaligus membuat perubahan besar pada hidup bintang laut ini”. Dan anak tersebut melemparkan bintang laut yang sebelumnya dia pegang ke arah laut.
 Dari cerita di atas, menjadi pemicu dan motivasi kita untuk tidak segan dalam berbuat kebaikan. Sesederhana dan sekecil apapapun usaha yang kita lakukan untuk kebaikan.. percayalah bahwa itu akan membuat perubahan menjadi lebih baik..
Dan saya masih ingat betul bagaimana ibu ari kamayanti menyampaikan hal ini.. sebagai pendidik janganlah pernah berputus asa untuk mendidik anak-anak didik kita.  tetaplah menyalurkan  ilmu yang telah kita miliki kepada mereka, tetap berusaha sebaik mungkin,…
YouTube Preview Image
Read More
TOP

Kedudukanmu

setinggi apapun kududukanmu, setinggi apapun jabatanmu, setinggi apapun derajadmu di masyarakat dan lingkungan sosialmu.. kamu tetaplah seorang anak untuk orang tuamu, seorang istri untuk suamimu, seorang suami untuk istrimu, orang tua untuk anak-anakmu…

maka lakukanlah kewajibanmu sebagaimana mestinya kamu dalam keluargamu…. Keluargamu tak melihat kedudukan, jabatan, dan derajadmu, anakmu memandangmu sebagai pahlawannya, pelindungnya, suami melihatmu sebagai sosok yang bisa menjadi panutan dan pengayom keluarga, istri melihatmu sebagai sosok pemimpin dan pelindung, dan orang tuamu memandangmu sebagai sosok yang mendamaikan hati dikala mereka lelah…

Ketulusan dan rasa cinta…

Itulah.. kenapa Tuhan tidak melihatmu karena harta dan kedudukanmu selama di dunia.. dia melihat betapa besar rasa cintamu padaNya…..

Read More
TOP

Perilaku generasi Y-MILLENNIALS

Sudah pernah ada yang dengar tentang kuntawi aji ? Beliau adalah salah satu blogger

yang aktif di tumblr.  Hari ini saya membaca salah satu tulisannya mengenai generasi Y. Tentang mengapa anak-anak sekarang berperilaku seperti saat ini. Berikut ini adalah kutipan dari tulisan beliau. Yang konon katanya, ternyata juga didapat dari temannya. Duh ruwet ya klo ditelusuri tulisan aslinya dari siapa : Pak kuntawi aji.. saya minta izin untuk repost cerita/artikel bapak :

Say hi to Lucy.

2013-09-15-Geny1.jpgLucy is part of Generation Y, the generation born between the late 1970s and the mid 1990s. She’s also part of a yuppie culture that makes up a large portion of Gen Y.I have a term for yuppies in the Gen Y age group — I call them Gen Y Protagonists & Special Yuppies, or GYPSYs. A GYPSY is a unique brand of yuppie, one who thinks they are the main character of a very special story.

So Lucy’s enjoying her GYPSY life, and she’s very pleased to be Lucy. Only issue is this one thing:

Lucy’s kind of unhappy.

To get to the bottom of why, we need to define what makes someone happy or unhappy in the first place. It comes down to a simple formula:
2013-09-15-Geny2.jpgIt’s pretty straightforward — when the reality of someone’s life is better than they had expected, they’re happy. When reality turns out to be worse than the expectations, they’re unhappy.

To provide some context, let’s start by bringing Lucy’s parents into the discussion:

2013-09-15-Geny3.jpgLucy’s parents were born in the ’50s — they’re Baby Boomers. They were raised by Lucy’s grandparents, members of the G.I. Generation, or “the Greatest Generation,” who grew up during the Great Depression and fought in World War II, and were most definitely not GYPSYs.
2013-09-15-Geny4.jpgLucy’s Depression Era grandparents were obsessed with economic security and raised her parents to build practical, secure careers. They wanted her parents’ careers to have greener grass than their own, and Lucy’s parents were brought up to envision a prosperous and stable career for themselves. Something like this:

2013-09-15-Geny5.jpgThey were taught that there was nothing stopping them from getting to that lush, green lawn of a career, but that they’d need to put in years of hard work to make it happen.

2013-09-15-Geny6.jpgAfter graduating from being insufferable hippies, Lucy’s parents embarked on their careers. As the ’70s, ’80s, and ’90s rolled along, the world entered a time of unprecedented economic prosperity. Lucy’s parents did even better than they expected to. This left them feeling gratified and optimistic.

2013-09-15-Geny7.jpg
With a smoother, more positive life experience than that of their own parents, Lucy’s parents raised Lucy with a sense of optimism and unbounded possibility. And they weren’t alone. Baby Boomers all around the country and world told their Gen Y kids that they could be whatever they wanted to be, instilling the special protagonist identity deep within their psyches.

This left GYPSYs feeling tremendously hopeful about their careers, to the point where their parents’ goals of a green lawn of secure prosperity didn’t really do it for them. A GYPSY-worthy lawn hasflowers.

2013-09-15-Geny8.jpgThis leads to our first fact about GYPSYs:

GYPSYs Are Wildly Ambitious

2013-09-15-Geny9.jpgThe GYPSY needs a lot more from a career than a nice green lawn of prosperity and security. The fact is, a green lawn isn’t quite exceptional or unique enough for a GYPSY. Where the Baby Boomers wanted to live The American Dream, GYPSYs want to live Their Own Personal Dream.

Cal Newport points out that “follow your passion” is a catchphrase that has only gotten going in the last 20 years, according to Google’s Ngram viewer, a tool that shows how prominently a given phrase appears in English print over any period of time. The same Ngram viewer shows that the phrase “a secure career” has gone out of style, just as the phrase “a fulfilling career” has gotten hot.

2013-09-15-Geny10.jpg 2013-09-15-geny11.jpg
To be clear, GYPSYs want economic prosperity just like their parents did — they just also want to be fulfilled by their career in a way their parents didn’t think about as much.

But something else is happening too. While the career goals of Gen Y as a whole have become much more particular and ambitious, Lucy has been given a second message throughout her childhood as well:

2013-09-15-Geny12.jpg
This would probably be a good time to bring in our second fact about GYPSYs:

GYPSYs Are Delusional

“Sure,” Lucy has been taught, “everyone will go and get themselves some fulfilling career, but I am unusually wonderful and as such, my career and life path will stand out amongst the crowd.” So on top of the generation as a whole having the bold goal of a flowery career lawn, each individual GYPSYthinks that he or she is destined for something even better —

A shiny unicorn on top of the flowery lawn.
2013-09-15-Geny13.jpg
So why is this delusional? Because this is what all GYPSYs think, which defies the definition of special:

spe-cial | ‘speSHel |
adjective
better, greater, or otherwise different from what is usual.

According to this definition, most people are not special — otherwise “special” wouldn’t mean anything.

Even right now, the GYPSYs reading this are thinking, “Good point… but I actually am one of the few special ones” — and this is the problem.

A second GYPSY delusion comes into play once the GYPSY enters the job market. While Lucy’s parents’ expectation was that many years of hard work would eventually lead to a great career, Lucy considers a great career an obvious given for someone as exceptional as she, and for her it’s just a matter of time and choosing which way to go. Her pre-workforce expectations look something like this:
2013-09-15-Geny14.jpgUnfortunately, the funny thing about the world is that it turns out to not be that easy of a place, and the weird thing about careers is that they’re actually quite hard. Great careers take years of blood, sweat and tears to build — even the ones with no flowers or unicorns on them — and even the most successful people are rarely doing anything that great in their early or mid-20s.

But GYPSYs aren’t about to just accept that.

Paul Harvey, a University of New Hampshire professor and GYPSY expert, has researched this, finding that Gen Y has “unrealistic expectations and a strong resistance toward accepting negative feedback,” and “an inflated view of oneself.” He says that “a great source of frustration for people with a strong sense of entitlement is unmet expectations. They often feel entitled to a level of respect and rewards that aren’t in line with their actual ability and effort levels, and so they might not get the level of respect and rewards they are expecting.”

For those hiring members of Gen Y, Harvey suggests asking the interview question, “Do you feel you are generally superior to your coworkers/classmates/etc., and if so, why?” He says that “if the candidate answers yes to the first part but struggles with the ‘why,’ there may be an entitlement issue. This is because entitlement perceptions are often based on an unfounded sense of superiority and deservingness. They’ve been led to believe, perhaps through overzealous self-esteem building exercises in their youth, that they are somehow special but often lack any real justification for this belief.”

And since the real world has the nerve to consider merit a factor, a few years out of college Lucy finds herself here:

2013-09-15-Geny15.jpgLucy’s extreme ambition, coupled with the arrogance that comes along with being a bit deluded about one’s own self-worth, has left her with huge expectations for even the early years out of college. And her reality pales in comparison to those expectations, leaving her “reality – expectations” happy score coming out at a negative.

And it gets even worse. On top of all this, GYPSYs have an extra problem that applies to their whole generation:

GYPSYs Are Taunted

Sure, some people from Lucy’s parents’ high school or college classes ended up more successful than her parents did. And while they may have heard about some of it from time to time through the grapevine, for the most part they didn’t really know what was going on in too many other peoples’ careers.

Lucy, on the other hand, finds herself constantly taunted by a modern phenomenon: Facebook Image Crafting.

Social media creates a world for Lucy where A) what everyone else is doing is very out in the open, B) most people present an inflated version of their own existence, and C) the people who chime in the most about their careers are usually those whose careers (or relationships) are going the best, while struggling people tend not to broadcast their situation. This leaves Lucy feeling, incorrectly, like everyone else is doing really well, only adding to her misery:

2013-09-15-Geny16.jpg
So that’s why Lucy is unhappy, or at the least, feeling a bit frustrated and inadequate. In fact, she’s probably started off her career perfectly well, but to her, it feels very disappointing.

Here’s my advice for Lucy:

1) Stay wildly ambitious. The current world is bubbling with opportunity for an ambitious person to find flowery, fulfilling success. The specific direction may be unclear, but it’ll work itself out — just dive in somewhere.

2) Stop thinking that you’re special. The fact is, right now, you’re not special. You’re another completely inexperienced young person who doesn’t have all that much to offer yet. You can become special by working really hard for a long time.

3) Ignore everyone else. Other people’s grass seeming greener is no new concept, but in today’s image crafting world, other people’s grass looks like a glorious meadow. The truth is that everyone else is just as indecisive, self-doubting, and frustrated as you are, and if you just do your thing, you’ll never have any reason to envy others.

Read More
TOP

Kid, don’t be afraid to be dreamer

Masih inget cita-cita masa kecil? Apakah cita-cita tersebut masih sama dengan cita-cita masa kini ? Well, Apabila cita-cita masa kecil tersebut telah berubah, jangan merasa takut, jangan merasa tidak memiliki prinsip hidup.

Cita-cita memang bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Semakin engkau dewasa dan melihat berbagai jenis profesi di dunia ini, maka semakin engkau memiliki banyak kesempatan untuk menjadi “apa” nantinya.

Sebuah saran dan nasehat yang ingin aku sampaikan adalahh “ketika memilih untuk menjadi apa, dengarkanlah kata hatimu, lihatlah kemampuanmu, dan perjuangkanlah cita-citamu, dan berdoalah”.

Dengaranlah kata hatimu. Artiya dalam memilih profesi yang nantinya akan kamu geluti dan dalami adalah merupakan keinginanmu. Bukan keinginan orang lain. Misalnya keinginan orang tuamu.

Lihatlah kemampuanmu. Dimana kita harus tahu kelemahan dan kelemahan diri. Kaau memang itu tidak memungkinkan, maka tinggalkan. Kamu harus menyadari antara angan-angan yang bisa dijadikan kenyataan dan tidak. Misal, kamu hanya memiliki tinggi  150, dan bercita-cita untuk menjadi seorang miss universe. Sudahlah.. wake up… Untuk menjadi berprestasi dan berprofesi dan disorot media tidak harus selalu menjadi miss universe.

Perjuangkan cita-citamu. Jika memang engkau ingin menjadi seorang PNS, sesusah apapu ujiannya laluilah. Jika tahun ini gagal, coba lagi tahun depan. Coba lagi, dan lagi.. dan jangan lupa BELAJAR!!!

Berdoa-lah. Sebesar apapun usaha yang kita lakukan.. semuanya kembalikan kepada yang di ATAS. Beliaulah yang menentukan qodo’ dan qodar.

Ini bukan hanya sebuah cerita. Aku menuliskan ini karena aku sendiri mengalaminya. Dan aku menyaksikan cerita teman-temanku. Dan ini memang nyata. Well.. walopun ada beberapa di antara temaku yang memiliki cerita yang berbeda. Yang lebih mulus.

 

Read More